Merendahkan bahasa Arab sama saja merendahkan akal

Sangat memprihatinkan melihat fenomena orang-orang yang dengan sombongnya meremehkan belajar bahasa Arab, padahal mereka hidup di atas warisan peradaban yang seluruh fondasinya dibangun di atas bahasa tersebut. 

Meremehkan bahasa Arab bukan sekadar persoalan pilihan belajar, melainkan indikasi kedangkalan pemahaman terhadap agama dan betapa tingginya kebodohan yang menyelimuti akal mereka. 

Orang yang menyepelekan bahasa Arab sejatinya sedang menutup pintu akses utama menuju pemahaman mendalam terhadap kalam Allah dan sunnah Rasul-Nya.

Mereka yang merasa cukup dengan terjemahan, atau lebih parah lagi, merasa bahwa bahasa Arab tidak relevan dengan tuntutan zaman, sebenarnya sedang membanggakan kejahilan mereka sendiri. 

Bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai kitab suci, namun merasa tidak perlu memahami bahasa yang digunakan untuk menurunkannya? 
Sikap ini adalah bentuk penistaan intelektual. 

Bahasa Arab bukanlah bahasa mati, ia adalah kunci pembuka khazanah ilmu-ilmu klasik yang memuat metodologi berpikir, logika hukum, hingga kehalusan sastra yang tidak akan pernah bisa diwakili oleh bahasa lain.


Allah Subhanahu Wa Taala berfirman dalam Alquran tentang keistimewaan bahasa yang digunakan untuk menyampaikan wahyu:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan berbahasa Arab, agar kalian memahaminya.


Mereka yang berani meremehkan bahasa ini seolah ingin mengatakan bahwa pemahaman mereka sudah cukup tanpa perlu merujuk pada teks aslinya. Ini adalah kesombongan yang menjerumuskan. 


Tanpa bahasa Arab, seseorang hanya akan menjadi konsumen pemikiran orang lain, menelan mentah-mentah pendapat tanpa mampu melakukan verifikasi mendalam terhadap dalil-dalil yang sebenarnya tertulis dengan sangat presisi dalam kaidah nahwu, shorof, dan balaghoh. 

Mereka yang buta bahasa Arab ibarat orang yang mencoba mencicipi madu melalui kaca, ia melihat bentuknya namun tidak pernah merasakan manisnya yang hakiki.


Ada keangkuhan yang memuakkan ketika seseorang menertawakan mereka yang sibuk mempelajari i'rab, wazan, nahwu shorof, sementara mereka sendiri tidak mampu membaca satu halaman kitab gundul tanpa tergagap-gagap. 

Kebodohan mereka tidaklah berbahaya selama mereka diam, namun menjadi ancaman ketika mereka mulai berani menghakimi pentingnya disiplin ilmu ini.

 Mempelajari bahasa Arab adalah jihad bagi akal dan hati, sebuah upaya untuk memurnikan pemahaman dari distorsi terjemahan yang seringkali dangkal.


Umar bin Khattab mengatakan:
تَعَلَّمُوا العَرَبِيَّةَ فَإِنَّهَا مِنْ دِينِكُمْ
Artinya: Pelajarilah bahasa Arab, karena ia bagian dari agamamu.


Berhentilah merasa cukup dengan kulit luar.

 Meremehkan bahasa Arab hanya akan membuat seseorang terjebak dalam lingkaran syubhat yang tidak berkesudahan, sebab mereka tidak memiliki alat untuk membedah akar permasalahan dari sumbernya.

 Jika Anda merasa bahasa ini sulit, itu adalah peringatan bahwa kapasitas diri Anda memang sedang diuji, bukan karena bahasa ini tidak berguna.

 Jangan jadikan ketidakmampuan Anda sebagai standar untuk merendahkan kemuliaan bahasa yang telah dipilih oleh Allah Subhanahu Wa Taala sebagai bahasa penduduk surga dan bahasa wahyu akhir zaman. 

Rendahkanlah hati Anda sebelum merendahkan ilmu, atau Anda akan selamanya menetap dalam kehinaan kebodohan yang Anda pilih sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar