RINGKASAN KAJIAN UST. ABDULLAH HUSNI (KERAKAS, 23 AGUSTUS 2026)

 


  1. Allah mewariskan Al-Qur’an kepada hamba-hamba-Nya yang Dia pilih, yaitu umat Nabi Muhammad ﷺ. Allah berfirman:
    ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا
    “ kemudian Kami wariskan Kitab kepada hamba-hamba yang Kami pilih.” (QS. فاطر: ٣٢)
  2. Umat Nabi Muhammad ﷺ mendapatkan kemuliaan karena dipilih Allah untuk menerima dan mewarisi Al-Qur’an. Imam As-Sa‘di menjelaskan bahwa umat ini memiliki akal yang sempurna, pemikiran yang baik, hati yang lembut, dan jiwa yang suci sehingga Allah memilih mereka untuk agama Islam dan mewariskan kepada mereka Al-Qur’an.
  3. Al-Qur’an adalah kitab yang mulia dan menjadi penyempurna serta penjaga kitab-kitab sebelumnya. Allah berfirman:
    وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
    (QS. المائدة: ٤٨)
  4. Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ yang ummiyy (tidak bisa baca tulis). Allah berfirman:
    فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ
    (QS. الأعراف: ١٥٨)
    Hal ini menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah. Meskipun Nabi ﷺ tidak bisa membaca dan menulis, Al-Qur’an berhasil disampaikan dan tersebar ke seluruh penjuru dunia.
  5. Para pewaris Al-Qur’an terbagi menjadi tiga golongan sebagaimana firman Allah:
    فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ
    (QS. فاطر: ٣٢)
  6. Golongan pertama adalah ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ, yaitu orang yang menzalimi dirinya dengan melakukan maksiat yang belum sampai kepada kekufuran. Imam As-Sa‘di menjelaskan:
    بِالْمَعَاصِي الَّتِي دُونَ الْكُفْرِ (yaitu org yang menzolimi dirinya dengan kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah selain kekufuran).
    Maksiat pada hakikatnya adalah kezaliman terhadap diri sendiri karena akibat buruknya akan kembali kepada pelakunya.
  7. Golongan kedua adalah مُقْتَصِدٌ, yaitu orang yang melaksanakan kewajiban dan meninggalkan perkara yang haram. Imam As-Sa‘di menjelaskan:
    مُقْتَصِرٌ عَلَى مَا يَجِبُ عَلَيْهِ تَارِكٌ لِلْمُحَرَّمِ (org yang mencukupkan diri hanya dengan melakukan hal yg wajib dan meninggalkan yg haram).
  8. Golongan ketiga adalah سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ, yaitu orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan. Ia tidak hanya mengerjakan kewajiban dan meninggalkan yang haram, tetapi juga memperbanyak amalan sunnah, meninggalkan perkara makruh, dan bersungguh-sungguh dalam berbagai amal kebaikan.
  9. Tujuan seorang muslim bukan sekadar terbebas dari maksiat, tetapi berusaha naik derajat dari ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ menuju مُقْتَصِدٌ, kemudian menuju سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ.
  10. Derajat سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ pada hakikatnya adalah derajat kesempurnaan penghambaan kepada Allah (al-ubuudiyyah). Orang yang paling sempurna dalam merealisasikan penghambaan adalah para nabi dan rasul.
  11. Nabi Muhammad ﷺ merupakan teladan tertinggi dalam penghambaan kepada Allah. Allah berfirman:
    الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ
    “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab kepada hamba-Nya.” (QS. الكهف: ١)
    Penyebutan Nabi ﷺ sebagai عَبْدِهِ menunjukkan kemuliaan beliau dalam merealisasikan penghambaan kepada Allah.
  12. Cabang-cabang keimanan sangat banyak. Karena itu, seseorang tidak harus menjadi seperti Imam Al-Bukhari atau Imam Ahmad untuk menjadi orang yang unggul. Ia dapat memilih salah satu cabang kebaikan yang mampu ia tekuni, kemudian memaksimalkannya sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.
  13. Uwais Al-Qarni adalah contoh seseorang yang mencapai keutamaan melalui satu cabang kebaikan yang ia maksimalkan, yaitu berbakti kepada ibunya. Nabi ﷺ bersabda:
    إِنَّ خَيْرَ التَّابِعِينَ رَجُلٌ يُقَالُ لَهُ أُوَيْسٌ
    “Sesungguhnya sebaik-baik tabi'in adalah seorang lelaki yang bernama Uwais.”
  14. Uwais Al-Qarni hidup pada zaman Nabi ﷺ, tetapi tidak dapat bertemu dengan beliau karena memilih tetap bersama ibunya dan berbakti kepadanya. Nabi ﷺ juga menyebutkan tentangnya:
    لَهُ وَالِدَةٌ هُوَ بِهَا بَرٌّ
    “Ia memiliki seorang ibu dan ia sangat berbakti kepadanya.”
  15. Pelajarannya adalah bahwa seseorang dapat mencapai derajat tinggi melalui pintu kebaikan yang Allah mudahkan baginya. Ada yang unggul melalui ilmu, dakwah, Al-Qur’an, akhlak, berbakti kepada orang tua, membantu manusia, keluarga, bisnis, dan berbagai cabang kebaikan lainnya.
  16. Nabi ﷺ bersabda tentang orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an:
    خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
    “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
  17. Dalam masalah akhlak, Nabi ﷺ bersabda:
    خِيَارُكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
    “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
  18. Dalam hubungan dengan keluarga, Nabi ﷺ bersabda:
    خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
    “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”
  19. Bisnis juga dapat menjadi sarana merealisasikan al-ubuudiyyah apabila dilakukan dengan niat yang benar, mencari yang halal, jujur, dan amanah. Dalam hadis disebutkan:
    التَّاجِرُ الْأَمِينُ الصَّدُوقُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
    “Pedagang yang amanah dan jujur akan bersama para nabi, orang-orang yang benar, dan para syuhada.”
    Hadis ini disebutkan dalam kajian sebagai hadis yang diperselisihkan derajatnya oleh para ulama ahli hadits.
  20. Bekerja mencari nafkah untuk anak, orang tua, atau menjaga diri agar tidak meminta-minta juga dapat menjadi sarana ibadah fii sabiilillah apabila niatnya benar. Nabi ﷺ bersabda:
    إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
    “Jika ia keluar bekerja untuk menafkahi anak-anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah.”
    Dan beliau bersabda:
    وَإِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْنِ شَيْخَيْنِ كَبِيرَيْنِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
    “Jika ia keluar bekerja untuk menafkahi kedua orang tuanya yang telah lanjut usia, maka ia berada di jalan Allah.”
  21. Prinsipnya adalah memaksimalkan ketakwaan di bidang apa pun yang Allah tempatkan kepada kita. Nabi ﷺ bersabda:
    اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
    “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada.”
  22. Karunia terbesar bukanlah harta, jabatan, atau kenikmatan dunia, tetapi menjadi pewaris Al-Qur’an. Allah berfirman:
    ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
    “Itulah karunia yang sangat besar.” (QS. فاطر: ٣٢)
  23. Al-Qur’an merupakan nikmat terbesar karena dengannya manusia mengetahui apa yang Allah cintai dan apa yang Allah benci, mengetahui petunjuk agama, serta mengetahui jalan keselamatan.
  24. Karena Al-Qur’an adalah nikmat terbesar, maka kita wajib menjaganya. Cara menjaganya adalah mempelajarinya, membacanya dengan benar, memahami bahasanya, memahami maknanya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.
  25. Belajar bahasa Arab merupakan salah satu sarana penting untuk memahami Al-Qur’an karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Allah berfirman:
    إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
    “Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berbahasa Arab agar kalian memahami.” (QS. يوسف: ٢)
  26. Al-Qur’an tidak cukup hanya dibaca. Ia harus dipahami dengan benar. Pemahaman yang benar harus dikembalikan kepada pemahaman para sahabat dan salafus shaalih, yaitu para sahabat, tabi'in, dan atbaa’ut taabi’iin. 
  27. Kesalahan dalam memahami Al-Qur’an dapat menyebabkan penyimpangan yang sangat berbahaya. Karena itu, seseorang tidak boleh menafsirkan Al-Qur’an hanya berdasarkan pemikiran pribadi tanpa memperhatikan pemahaman generasi pertama umat ini.
  28. Al-Qur’an harus diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan: akidah, ibadah, akhlak, dan hukum. Di antara faedah ayat tersebut adalah:
    وُجُوبُ الْعَمَلِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ
    wajibnya mengamalkan Al-Qur’an.
  29. Kedudukan seorang hamba berkaitan dengan sejauh mana ia mengamalkan Al-Qur’an:
    وَأَنَّ مَنْزِلَةَ الْعَبْدِ بِقَدْرِ عَمَلِهِ بِالْقُرْآنِ
    Semakin besar pengamalannya terhadap Al-Qur’an, semakin tinggi kedudukannya.
  30. Lima faedah utama dari QS. فاطر ayat 32 adalah:
    Pertama, بَيَانُ قُدْرَةِ اللَّهِ, penjelasan tentang kekuasaan Allah yang sempurna.
    Kedua, بَيَانُ شَرَفِ الْقُرْآنِ, penjelasan tentang kemuliaan Al-Qur’an.
    Ketiga, وُجُوبُ الْعَمَلِ بِالْقُرْآنِ الْكَرِيمِ, kewajiban mengamalkan Al-Qur’an.
    Keempat, بَيَانُ شَرَفِ هَذِهِ الْأُمَّةِ, penjelasan tentang kemuliaan umat Muhammad ﷺ.
    Kelima, بَيَانُ طَبَقَاتِ الْأُمَّةِ, penjelasan tentang tingkatan umat yang terdiri dari ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ, مُقْتَصِدٌ, dan سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ.
  31. Tiga tingkatan tersebut memiliki keterkaitan dengan tiga tingkatan dalam Hadis Jibril: الإسلام, الإيمان, dan الإحسان. Tingkatan tertinggi adalah الإحسان, yaitu beribadah kepada Allah dengan merasakan pengawasan-Nya secara sempurna.
  32. Nabi ﷺ menjelaskan ihsan:
    أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
    “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
  33. Kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi akan mendorong seseorang untuk terus bertakwa dalam keadaan apa pun. Ia akan berusaha menjadi سَابِقًا بِالْخَيْرَاتِ, baik ketika menjadi pedagang, pemimpin, rakyat, suami, istri, anak, guru, maupun dalam profesi lainnya.
  34. Kesimpulannya: kita semua adalah pewaris Al-Qur’an. Jangan puas hanya menjadi ظَالِمًا لِنَفْسِهِ. Berusahalah menjadi مُقْتَصِدًا, kemudian tingkatkan diri hingga menjadi سَابِقًا بِالْخَيْرَاتِ. Maksimalkan ketakwaan di bidang yang Allah mudahkan bagi kita, sehingga seluruh kehidupan kita menjadi bentuk penghambaan kepada Allah.

LINK VIDEO DARI YOUTUBE: https://youtu.be/iggxP1Nazwk?si=nYu0ueR-MBy7uIwD

Sholat: Bukan Sekadar Rutinitas

 



5 Cara Mengubah Sholat Menjadi Dialog yang Hidup

Pernahkah Antum berdiri di atas sajadah, menyelesaikan seluruh gerakan dari takbir hingga salam, namun menyadari bahwa pikiran justru sibuk berkelana jauh? 

Saat lisan mengucap ayat, hati mungkin sedang menyusun daftar belanja, mengingat tenggat pekerjaan, atau terpaku pada notifikasi media sosial yang baru saja lewat. Sholat pun berakhir menjadi sekadar rutinitas mekanis yang kehilangan jiwanya.

Fenomena "sholat otomatis" ini adalah tantangan besar di era distraksi digital. Kita seringkali hadir secara fisik, namun absen secara batin. Padahal, sholat seharusnya menjadi sebuah "Dialog Suci dengan Ilahi"—sebuah momen pertemuan yang intim di mana kita tidak sedang berbicara pada dinding hampa, melainkan sedang disimak dan dijawab oleh Sang Pencipta.

Bagaimana cara mengubah sholat kita dari sekadar ritual fisik menjadi pengalaman spiritual yang menghidupkan hati? 


1. Sholat adalah Dialog, Bukan Monolog

Kunci utama kekhusyukan adalah menyadari bahwa sholat adalah komunikasi dua arah. Setiap dzikir yang kita ucapkan bukan sekadar bunyi-bunyian tanpa tujuan, melainkan bagian dari interaksi di mana Allah menjawab setiap kalimat hamba-Nya. Memahami makna bacaan menjadi krusial agar kita tidak terjebak dalam "monolog hampa."

Kesadaran ini harus dibarengi dengan keyakinan penuh bahwa Allah senantiasa memperhatikan setiap detail aktivitas kita. Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:

"(Allah) yang melihatmu ketika kamu berdiri (untuk sholat), dan (melihat pula) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud." (Q.S. asy-Syu’araa’: 219-220).

Saat kita benar-benar yakin bahwa Sang Pencipta sedang menyimak dan merespons setiap bait doa kita, maka dorongan untuk mempersembahkan "performa" batin yang terbaik akan muncul secara alami. Sholat bukan lagi kewajiban yang ingin cepat diselesaikan, melainkan dialog yang ingin terus dinikmati.

2. Menjaga Batas: Antara "Ucapan Manusia" dan "Bacaan Sholat"

Ada sebuah fenomena menarik yang melatarbelakangi penulisan buku Abu Utsman Kharisman, yaitu munculnya praktik "sholat dua bahasa." Meskipun niatnya baik agar jamaah paham, namun mencampuradukkan lafadz sholat dengan terjemahan langsung di lisan justru melanggar batasan syar’i yang sakral.

Penting bagi kita untuk memahami bahwa ritual sholat memiliki batas-batas yang jelas. Kita dilarang memasukkan "ucapan manusia" ke dalam lafadz aslinya, namun kita diperintahkan untuk memahami maknanya di dalam hati. Memahami makna adalah upaya intelektual yang menjadi jembatan menuju hati yang hadir. Rasulullah ﷺ memberikan batasan tegas dalam sebuah riwayat:

"Sesungguhnya sholat ini tidak boleh ada ucapan manusia padanya, yang ada hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur’an." (H.R. Ahmad, Muslim, An-Nasa’i).

Dengan menjaga keaslian bacaan sambil mengasah pemahaman makna secara batin, kita menjaga kemurnian ibadah sekaligus menghidupkan koneksi spiritual kita.

3. Menghadirkan Tiga Spektrum Emosi dalam Setiap Gerakan

Sholat yang berkualitas bukanlah sholat yang emosinya datar. Para ulama salaf mengajarkan bahwa ibadah harus melibatkan tiga emosi utama yang bergerak dinamis: Cinta (dengan pengagungan), Takut, dan Berharap.

Ketiga emosi ini seharusnya muncul secara bergantian sesuai dengan apa yang kita hayati dalam setiap gerakan:

  • Cinta dan Pengagungan: Hadirkan saat kita membaca Nama dan Sifat Allah yang agung dalam Takbiratul Ihram atau Ruku’.
  • Takut: Munculkan saat lisan membaca ayat tentang ancaman adzab atau ketika kita mengakui dosa-dosa dalam doa iftitah.
  • Berharap: Tumbuhkan saat kita melafalkan ayat tentang rahmat atau saat melakukan Duduk di antara Dua Sujud, di mana kita secara aktif meminta hidayah, ampunan, dan rizki kepada Allah.

4. Dunia di Tangan, Bukan di Hati

Banyak dari kita sulit khusyu' karena masalah dunia terbawa hingga ke sujud. Rahasianya terletak pada cara kita mengelola prioritas: jadikan pekerjaan dan urusan duniawi sebagai "sarana ibadah" (di tangan), bukan sebagai "kecemasan utama" (di hati).

Apa kunci psikologis agar dunia tidak menyesaki hati saat sholat? Jawabannya adalah keyakinan akan pertemuan dengan Allah. Jika kita yakin bahwa saat itu kita sedang berdiri di hadapan Penguasa alam semesta, maka beban dunia akan terasa kecil dengan sendirinya. Allah berfirman:

"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan sholat itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu', (yaitu) mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya..." (Q.S. Al-Baqarah: 45-46).

Keyakinan akan pertemuan inilah yang menjadi jangkar batin kita. Tanpanya, sholat akan selalu terasa berat dan dunia akan selalu menang berebut perhatian di dalam pikiran kita.

5. Matematika Pahala: Investasi atas Kesadaran

Seringkali kita merasa sudah "aman" hanya karena telah menyelesaikan gerakan sholat dari awal sampai akhir. Namun, ada fakta mengejutkan mengenai bagaimana pahala sholat dicatat. Sholat bukanlah sekadar "gugur kewajiban," melainkan tentang sejauh mana kita hadir untuk mengingat-Nya. Sebagaimana perintah Allah:

"...dan tunaikanlah sholat untuk mengingat-Ku." (Q.S. Thaha: 14).

Karena tujuan utama sholat adalah zikir (mengingat Allah), maka pahala yang diberikan pun berbanding lurus dengan tingkat kehadiran hati kita. Sahabat Nabi, Ammar bin Yasir, memberikan peringatan yang sangat mendalam:

"Tidaklah dicatat (sebagai pahala) dalam sholat seseorang ketika ia lalai." (H.R. Ibnul Mubarak).

Jika kita sholat sepuluh menit namun hanya benar-benar ingat Allah selama dua menit, maka itulah investasi pahala yang kita bawa pulang. Kesadaran akan "matematika pahala" ini seharusnya memotivasi kita untuk tidak sekadar "menyelesaikan" sholat, tetapi benar-benar "menempati" setiap detiknya dengan kesadaran penuh.

Mencapai kekhusyukan adalah sebuah perjalanan panjang yang menggabungkan ilmu pemahaman makna, pembiasaan dzikir dalam keseharian, serta keberanian untuk meletakkan urusan dunia sejenak di luar garis sajadah. Sholat kita pada hakikatnya adalah cerminan dari bagaimana hubungan kita dengan Sang Pencipta di luar waktu sholat.

Jangan merasa terbebani untuk langsung sempurna. Mulailah dengan langkah kecil hari ini: pilihlah satu bacaan sholat yang paling Anda hayati maknanya, dan fokuslah untuk benar-benar menyimak kata-kata itu saat Anda mengucapkannya.

Jika sholat adalah dialog, sudahkah kita benar-benar menyimak apa yang kita katakan kepada-Nya hari ini?

Belajar itu Bukan Transaksi Ilmu


Ketika kita duduk di hadapan seorang guru untuk menimba ilmu, seringkali muncul kesalahpahaman bahwa yang berpindah tangan hanyalah materi atau sekadar informasi.

Padahal, hakikat dari proses belajar-mengajar jauh lebih dalam dari sekadar pertukaran nilai ekonomi atau transaksional. 

Saat kita menyerahkan diri untuk belajar, kita sebenarnya sedang menerima saripati dari waktu yang telah dihabiskan oleh guru tersebut.

Ilmu bukanlah komoditas yang bisa diproduksi secara massal lalu dibeli di toko. Ilmu adalah hasil dari pergulatan panjang, kegagalan yang pernah ia lalui, malam-malam yang dihabiskan dengan terjaga, serta kerutan di dahi saat ia mencoba memecahkan kerumitan sebuah masalah. Semua itu memakan waktu.

Saat seorang guru memberikan jawabannya kepada kita, ia sedang memberikan intisari dari tahun-tahun kehidupannya. 

Ia meringkas puluhan tahun pengalaman agar kita tidak perlu lagi menempuh jalan berliku yang sama dengannya. 

Kita membeli jalan pintas yang dibangun di atas fondasi pengorbanan usianya. Itulah mengapa dalam tradisi keilmuan, adab kepada guru menjadi posisi yang sangat krusial. 

Sebab, menghormati guru bukan sekadar menghormati sosoknya, melainkan menghormati waktu dan umur yang telah ia habiskan demi menghidupkan ilmu tersebut di dalam diri kita.

Guru yang sejati adalah mereka yang mengerti bahwa mengajar adalah amanah untuk meneruskan umur dan pengalaman demi kebermanfaatan umat. Ilmu yang didapatkan dengan kesadaran ini akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pengetahuan; ia akan menjadi cahaya yang menuntun pemiliknya.

Oleh karena itu, ketika kita belajar, jangan pernah merasa bahwa apa yang kita berikan sudah sebanding dengan apa yang kita terima. 

Tidak ada uang atau materi yang mampu membayar umur seseorang. 

Yang tersisa hanyalah rasa syukur dan penghormatan, serta komitmen untuk menjaga ilmu tersebut agar tidak berhenti di tangan kita, melainkan terus mengalir sebagai amal jariyah bagi guru yang telah mendermakan umurnya untuk kita.

Kumpulan PDF kitab Ibnul Qayyim+ ringkasannya

Kumpulan karya tulis Ibnul Qayyim Al Jausiyyah (691- 751H).

Berikut adalah kumpulan seluruh tulisan beliau dalam bentuk PDF :
https://drive.google.com/folderview?id=1UfUeV8OkHZLpT44jdS3U6OeRCytXMxgT

Sebagai pengantar, bisa juga membaca kumpulan rangkuman beberapa kitab beliau yang disusun oleh masyayikh kontemporer :
https://drive.google.com/drive/folders/1kGdEJXjn-ECp7oLUJwCF9xJjiSc5i6I-

Tingkatan Puasa Asyura



Tingkatan Puasa Hari Asyura
(Syeikh Sholih Al Ushoimi)

Di antara sunnah yang utama adalah mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam dalam berpuasa Asyura, yaitu tanggal sepuluh bulan Muharram. 

Puasa Asyura memiliki dua tingkatan:
Tingkatan Pertama: Berpuasa pada hari kesepuluh saja.
Ini adalah perbuatan Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam saat puasa tersebut masih wajib, kemudian menjadi sunnah. Di akhir hayatnya, beliau bertekad untuk berpuasa bersama hari kesembilan. Motif beliau adalah untuk menyelisihi kaum Yahudi dan Nasrani, serta menyelisihi ahli kitab yang diperintahkan untuk mengikuti syariatnya, baik itu sebagai kewajiban maupun sunnah. 

Dari sini diambil kesimpulan bahwa puasa hari kesembilan bersama hari kesepuluh sangat dianjurkan. Jadi, berpuasa hari Asyura saja adalah mustahab, dan menambah hari kesembilan lebih ditekankan kesunnahannya.

Tingkatan Kedua: Berpuasa Asyura dan hari lainnya dari bulan Muharram.
Tingkatan ini terbagi menjadi empat jenis:
Jenis Pertama: Berpuasa satu hari sebelum Asyura, yaitu tanggal sembilan. Ini adalah sunnah yang tetap dari Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Jenis Kedua: Berpuasa satu hari setelah Asyura, yaitu tanggal sebelas. Meskipun riwayatnya tidak shahih, pandangan yang menyatakan bahwa berpuasa tanggal sebelas saja bagi yang tidak berpuasa tanggal sembilan itu untuk menyelisihi ahli kitab, maka jika puasa hari kesembilan untuk menyelisihi kaum Yahudi dan Nasrani, maka menyelisihi tersebut juga ada jika berpuasa hari kesebelas sebagai pengganti hari kesepuluh.

Jenis Ketiga: Berpuasa satu hari sebelum dan satu hari sesudah Asyura.
Jenis ini terbagi menjadi tiga bagian:
 1. Berpuasa tiga hari dengan niat mendekatkan diri kepada Allah dengan tata cara puasa Asyura, dan ini diriwayatkan dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, namun sanadnya dhaif.
 2. Berpuasa tiga hari secara hati-hati agar tepat bertepatan dengan hari Asyura, dan ini mustahab jika ada keraguan tentang masuknya bulan.
 3. Berpuasa dengan niat puasa Asyura dan puasa tiga hari setiap bulan. Maka ia berniat puasa tiga hari setiap bulan, dan itu adalah mustahab secara mutlak. Ia memasukkan puasa Asyura dengan niat khususnya, maka ia mendapatkan dua amalan sekaligus karena sahnya menggabungkan keduanya dalam satu perbuatan dengan satu niat sekaligus.


Jenis Keempat: Berpuasa satu hari atau lebih dari bulan Muharram, selain hari sebelumnya dan sesudahnya.


Jika ia berpuasa Asyura saja, maka kembali ke tingkatan pertama. Jika ia berniat berpuasa tiga hari yang terpisah di bulan tersebut, atau ia berniat puasa di bulan Muharram, maka ia mendapatkan pahala.


Kesimpulan: Tata cara yang paling sempurna dalam puasa Asyura adalah dengan berpuasa hari kesembilan bersamanya.