Padahal, hakikat dari proses belajar-mengajar jauh lebih dalam dari sekadar pertukaran nilai ekonomi atau transaksional.
Saat kita menyerahkan diri untuk belajar, kita sebenarnya sedang menerima saripati dari waktu yang telah dihabiskan oleh guru tersebut.
Ilmu bukanlah komoditas yang bisa diproduksi secara massal lalu dibeli di toko. Ilmu adalah hasil dari pergulatan panjang, kegagalan yang pernah ia lalui, malam-malam yang dihabiskan dengan terjaga, serta kerutan di dahi saat ia mencoba memecahkan kerumitan sebuah masalah. Semua itu memakan waktu.
Saat seorang guru memberikan jawabannya kepada kita, ia sedang memberikan intisari dari tahun-tahun kehidupannya.
Ia meringkas puluhan tahun pengalaman agar kita tidak perlu lagi menempuh jalan berliku yang sama dengannya.
Kita membeli jalan pintas yang dibangun di atas fondasi pengorbanan usianya. Itulah mengapa dalam tradisi keilmuan, adab kepada guru menjadi posisi yang sangat krusial.
Sebab, menghormati guru bukan sekadar menghormati sosoknya, melainkan menghormati waktu dan umur yang telah ia habiskan demi menghidupkan ilmu tersebut di dalam diri kita.
Guru yang sejati adalah mereka yang mengerti bahwa mengajar adalah amanah untuk meneruskan umur dan pengalaman demi kebermanfaatan umat. Ilmu yang didapatkan dengan kesadaran ini akan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar pengetahuan; ia akan menjadi cahaya yang menuntun pemiliknya.
Oleh karena itu, ketika kita belajar, jangan pernah merasa bahwa apa yang kita berikan sudah sebanding dengan apa yang kita terima.
Tidak ada uang atau materi yang mampu membayar umur seseorang.
Yang tersisa hanyalah rasa syukur dan penghormatan, serta komitmen untuk menjaga ilmu tersebut agar tidak berhenti di tangan kita, melainkan terus mengalir sebagai amal jariyah bagi guru yang telah mendermakan umurnya untuk kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar