Ghibah: Penyakit jiwa yang menjijikkan

Ghibah adalah penyakit bagi jiwa-jiwa yang tidak memiliki daya untuk memperbaiki diri sendiri, sehingga mereka sibuk membedah bangkai kehormatan orang lain demi menutupi bobroknya kualitas pribadi mereka. 

Orang yang gemar menggunjing sebenarnya sedang memamerkan betapa kosongnya isi kepala dan betapa rendahnya martabat yang mereka miliki. 

Karena tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan, mereka memilih jalur pintas menjadi komentator kehidupan orang lain.

Sangat menjijikkan melihat seseorang merasa lebih bersih hanya karena ia berhasil menemukan noda di pakaian orang lain, padahal dirinya sendiri sedang bergelimang dalam lumpur kotoran. 

Allah Subhanahu Wa Taala secara tegas telah menyamakan perbuatan keji ini dengan tindakan yang paling menjijikkan bagi akal sehat manusia dalam Alquran:
وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
Artinya: Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya.

Mereka yang hobi berghibah adalah pecundang yang tidak punya keberanian untuk berhadapan langsung.

 Mereka menyimpan kebencian di balik topeng keramahan, lalu memuntahkannya dalam forum-forum kecil yang mereka anggap aman. 

Padahal, setiap kata yang keluar dari lisan mereka adalah catatan kehancuran bagi amal ibadah mereka sendiri. 

Mengapa harus lelah mengumpulkan pahala jika akhirnya hanya untuk diberikan secara cuma-cuma kepada orang yang mereka ghibahi?

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah memperingatkan hakikat orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu mereka yang datang dengan segunung pahala namun habis terkikis oleh perbuatan zalim terhadap sesama, termasuk ghibah.

Tidakkah mereka sadar bahwa fokus pada aib orang lain hanyalah cermin dari aib diri sendiri yang terlalu besar untuk diakui? 

Berhentilah menjadi pengecut yang merasa hebat dengan merendahkan orang lain. Jika hidup tidak bisa memberi manfaat, setidaknya berhentilah menjadi racun bagi lingkungan dengan lisan yang tidak terjaga.

 Ingatlah bahwa kehormatan orang lain bukan konsumsi publik untuk memuaskan rasa haus akan gosip yang tidak ada ujungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar