Dampaknya, hal yang haram kini dianggap sebagai kewajaran, gaya hidup, atau bahkan standar pergaulan yang modern.
Sebaliknya, saat ada individu atau kelompok yang berusaha konsisten menjaga diri, menundukkan pandangan, atau memegang teguh batasan halal dan haram, mereka justru dianggap aneh, kaku, atau asing.
Seolah-olah kesalehan telah menjadi sesuatu yang ganjil di tengah kerumunan yang terbiasa dengan kelalaian.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
بدأ الإسلام غريبا وسيعود غريبا كما بدأ فطوبى للغرباء
Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana ia bermula, maka beruntunglah orang-orang yang asing tersebut.
Keterasingan yang dirasakan oleh orang-orang yang berusaha mempertahankan nilai halal di zaman ini adalah bentuk ujian keimanan. Ketika kebenaran dianggap sebagai keanehan, itu adalah tanda bahwa masyarakat sedang berada dalam fase titik nadir moral.
Bahaya utamanya bukan hanya pada perbuatan haram itu sendiri, melainkan pada hilangnya rasa benci di dalam hati terhadap kemungkaran. Jika hati sudah tidak lagi merasa risih melihat hal haram, maka itulah saat di mana iman sedang berada dalam bahaya besar.
Sebagaimana nasihat para ulama bahwa dosa yang dilakukan secara terus-menerus dan dianggap biasa, akan menutup pintu hidayah bagi pelakunya.
Kita tidak boleh terpengaruh oleh arus mayoritas yang menganggap keburukan sebagai gaya hidup.
Menjadi asing karena memegang prinsip syariat jauh lebih mulia daripada menjadi populer namun kehilangan jati diri sebagai seorang mukmin.
Tugas kita bukan untuk mengikuti apa yang dianggap lumrah oleh zaman, melainkan menjaga apa yang ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai kebenaran, meskipun dunia memandang kita dengan penuh keheranan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar