Mengaku penuntut ilmu namun hanya mengandalkan ingatan adalah bentuk kesombongan yang terselubung.
Banyak orang merasa cukup dengan sekadar hadir, duduk di majelis, dan mendengarkan, namun mereka merasa terlalu berat untuk sekadar menggerakkan pena di atas kertas, bahkan banyak jg yang tidak membawa kertas atau buku tulis sama sekali.
Padahal, ingatan manusia adalah tempat yang paling mudah disusupi oleh lupa, sedangkan tulisan adalah pengikat yang menjaga ilmu agar tidak hilang diterbangkan waktu.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah memberikan arahan yang jelas bagi umatnya untuk menjaga ilmu, sebagaimana dalam sabda beliau:
قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ
Artinya: Ikatlah ilmu dengan tulisan.
Malas mencatat saat kajian bukan sekadar persoalan teknis, melainkan cerminan dari rendahnya penghargaan terhadap ilmu itu sendiri.
Jika seseorang menganggap ilmu yang disampaikan oleh guru atau pemateri adalah sesuatu yang berharga, niscaya ia akan berupaya sekuat tenaga untuk mengabadikannya.
Mengabaikan catatan adalah bukti nyata bahwa ilmu tersebut hanya dianggap sebagai angin lalu yang tidak perlu menetap di dalam hati maupun di dalam catatan.
العِلْمُ صَيْدٌ وَالكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُودَكَ بِالحِبَالِ الوَاثِقَةِ
Artinya: Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah pengikatnya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.
Sungguh ironis melihat seseorang menghabiskan waktu berjam-jam di majelis ilmu, namun pulang dengan tangan kosong tanpa ada satu pun faedah yang tertulis.
Mereka hanya akan menjadi kolektor majelis yang ilmunya menguap bersamaan dengan beranjaknya kaki mereka dari tempat duduk.
Berhentilah bersikap sok pintar dengan mengandalkan hafalan yang rapuh.
Ilmu yang tidak dicatat adalah ilmu yang sedang menunggu waktu untuk sirna.
Jangan heran jika ilmu tidak kunjung melekat, sebab wadah untuk menjaganya tidak pernah disiapkan dengan sungguh-sungguh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar